Kirisaka dibangun ulang di atas kota yang belum mau pergi
Setahun sesudah gempa besar, Kirisaka berdiri lagi dengan bata merah, kabel trem yang masih berkilat, dan jam stasiun yang catnya belum kering.
Lalu turun hujan pertama sejak kota selesai dibangun, dan jalan-jalan kayu zaman Edo muncul kembali di bawah jalan bata, lengkap dengan kedai dan jembatannya, juga orang-orang yang masih menawar ikan seakan tahun tidak pernah berganti. Sebagian penghuni jalan lama itu belum sadar zamannya sudah lewat. Sebagian lagi sadar, dan marah karena rumahnya hilang, sampai amarah itu mengeras menjadi Furugami: sosok tua sebesar rumah yang ingin kota baru ini ikut runtuh bersama mereka.
Kedua kota itu hanya terlihat oleh tujuh orang yang kebetulan berteduh di bawah atap kedai piringan hitam yang sama, pada sore yang sama, waktu hujan itu turun untuk pertama kalinya. Mereka tidak saling kenal sebelumnya, dan sejak sore itu mereka tidak bisa lagi pura-pura tidak melihat apa yang ada di bawah kaki mereka.
Mereka yang berteduh bersama
Pilih salah satu nama untuk mengenal orangnya, ikatannya dengan yang lain, dan pengisi suara yang menemanimu sepanjang kira-kira 50 jam cerita.
Shino
Mutsuki
“Kalau kalian juga melihat jalan kayu itu, berarti aku belum gila, jadi ayo berteduh di sini dulu.”
- Dengan Tōru
- Orang pertama yang ia tawari payung merahnya, sebelum ia tahu Tōru bukan berasal dari tahun ini.
- Dengan Yae
- Teman sebangku di sekolah putri yang diam-diam menjadikannya bahan kolom koran.
- Dengan Hanzō
- Bekas guru biolanya, yang dulu menyuruhnya berhenti main dan sekarang menyesal.
CV Mineko Ashihara

Kōtarō
Ibuki
“Poster ini sudah tiga kali kugambar dan tiga kali dihapus hujan, jadi kali ini kupakai cat minyak.”
- Dengan Sayo
- Melukis wajahnya di poster bioskop tanpa tahu siapa dia, dan kini wajah itu dicari keluarganya ke seluruh kota.
- Dengan Rokurō
- Selalu duduk di bangku belakang trem Rokurō untuk menggambar para penumpang.
- Dengan Furugami
- Satu-satunya yang mau menggambar wajah mereka, supaya ada yang mengingat rupa kedai dan rumah yang hilang.
CV Seiji Utsunomiya

Yae
Tsukioka
“Koran pagi butuh cerita hantu, dan kebetulan aku sedang berdiri di tengah-tengahnya.”
- Dengan Shino
- Teman sekelas yang paling sering ia tulis dalam kolom tanpa nama, dan belum pernah ketahuan.
- Dengan Hanzō
- Satu-satunya pembaca yang berhasil menebak siapa penulis kolom itu dari pilihan katanya.
- Dengan Kōtarō
- Mencoret poster-poster buatannya di kolom koran, lalu menempelkan guntingannya di dinding kamar.
CV Hatsue Kanamori

Rokurō
Senda
“Jalur tujuh berhenti di Jembatan Mikage, sedangkan jalur lama yang tidak ada di peta berhenti di mana pun kamu lupa jalan pulang.”
- Dengan Tōru
- Hafal jalan-jalan Edo dari dongeng kakeknya, dan Tōru membuktikan semuanya benar.
- Dengan Sayo
- Menyembunyikannya di gerbong kosong depo Kurumazaka pada malam pertama ia kabur.
- Dengan kota
- Masih menyimpan karcis trem untuk jalur yang relnya sudah dibongkar sesudah gempa.
CV Daigo Tsurumaki

Hanzō
Morioka
“Telinga kiriku tuli sejak gempa, dan anehnya justru telinga itu yang mendengar musik dari jalan lama.”
- Dengan Shino
- Bekas muridnya; ia masih merasa bersalah karena dulu menyuruh Shino berhenti bermain biola.
- Dengan Furugami
- Bisa menenangkan sebagian dari mereka dengan lagu lama yang masih mereka ingat.
- Dengan Yae
- Membaca kolomnya tiap pagi dan sudah lama tahu siapa yang menulisnya.
CV Kenshirō Mogami

Sayo
Kurahashi
“Ayah menyiapkan pernikahan untuk hari Minggu, dan aku menyiapkan jalan keluar lewat kota yang tidak bisa ia lihat.”
- Dengan keluarganya
- Putri juragan kain yang gudangnya berdiri tepat di atas kedai kain milik Furugami pertama.
- Dengan Kōtarō
- Wajahnya terpampang di poster bioskop, dan ia ingin tahu siapa yang berani menggambarnya.
- Dengan Rokurō
- Berutang satu malam persembunyian di depo trem, dan berniat membalasnya.
CV Rio Shimazaki

Tōru
Akizuki
“Jembatan ini dulu dari kayu dan ibuku membuka warung dango di ujungnya, jadi tolong bilang aku cuma salah jalan.”
- Dengan Shino
- Payung merah Shino adalah benda pertama dari zaman baru yang pernah ia sentuh.
- Dengan Rokurō
- Menunjukkan jalan-jalan yang selama ini hanya ada di dongeng kakek Rokurō.
- Dengan Furugami
- Mengenal sebagian dari mereka sebagai tetangga, jauh sebelum mereka berubah rupa.
CV Yūma Kakehi


Ame no Ato de
Sesudah Hujan
Lagu tema dinyanyikan Kanako Hidaka
Lagu tema Lyrefall ditulis mengikuti tempo langkah orang yang pulang tanpa payung, pelan di bait pertama lalu makin tergesa ketika hujan mulai reda.
Kanako Hidaka merekamnya dalam satu kali ambil, dengan jendela studio yang sengaja dibiarkan terbuka supaya bunyi hujan sungguhan ikut masuk ke pita.
Peta Kirisaka
Kirisaka punya sembilan distrik, dan di bawah masing-masing tersimpan versi Edo-nya sendiri. Geser hujan dari reda ke deras untuk melihat kota bata tahun 1924 memudar dan jalan kayu lama naik ke permukaan, lalu pilih satu dari empat titik untuk membaca kisahnya.
Hujan masih reda, jadi yang terlihat hanya Kirisaka tahun 1924.
Jalan Tsutsumi
Kirisaka, 1924
Jalan bata dengan kedai piringan hitam tempat ketujuh orang itu berteduh, dan poster bioskop buatan Kōtarō di dindingnya.
Cloudburst Turn
Pertarungan di Lyrefall berjalan bergiliran, tetapi langit ikut menentukan bentuk arenanya.
Makin deras hujan, makin banyak jalan lama yang terbuka di tengah tarung: gang kayu untuk mengapit lawan dari samping, jembatan yang bisa dirobohkan, dan kedai tua tempat penghuni zaman Edo ikut membantu kalau kamu pernah menolong mereka. Hujan yang sama juga membuat Furugami makin kuat, sehingga di tiap giliran kamu harus menimbang apakah lebih baik menunggu deras atau menyerang selagi masih gerimis.



Hari cerah
Hari cerah tidak membuka jalan lama, jadi ketujuh orang ini bisa menonton film bisu, menulis surat, berlatih biola, atau duduk di bangku trem tanpa harus lari. Ikatan yang tumbuh pada hari-hari tenang itu menentukan siapa yang berdiri di sampingmu ketika hujan kembali turun.
Kirisaka terbagi atas sembilan distrik, dan ceritanya berjalan sekitar 50 jam bersama tujuh orang yang bisa kamu tukar keluar masuk party.
